Pertarungan Dua Poros, Kemenangan Tipis, dan Sengketa di Meja Konstitusi , Lineamenta Sejarah Pilkada Kelima Manggarai Barat (2024)
Oleh: Kris Bheda Somerpes Divisi Hukum dan Pengawasan Tahun 2024 menjadi salah satu babak paling menegangkan dalam perjalanan demokrasi Manggarai Barat. Setelah Pemilu Presiden dan Legislatif 14 Februari, suhu politik nasional yang masih panas segera bergeser ke arena Pilkada Serentak di penghujung tahun. Irama koalisi di Jakarta memantul hingga ke Manggarai Barat, menegaskan bahwa politik daerah tidak lagi berdiri sendiri. Dinamika nasional kini bersentuhan langsung dengan kalkulasi lokal, mempertemukan strategi partai, kepentingan pusat, dan aspirasi masyarakat di garis depan demokrasi daerah. Berbeda dengan Pilkada sebelumnya yang kerap diwarnai banyak kandidat, kontestasi 2024 mengerucut menjadi pertarungan dua poros besar. Sejumlah nama sempat muncul, di antaranya Edistasius Endi dan Yulianus Weng, Christo Mario Y. Pranda dan Richardus Tata Sontani, Bernadus Barat Daya dan Marselinus Jeramun, serta Haji Azis dan Sirilius Ladur sebagai calon perseorangan, namun hanya dua pasangan yang ditetapkan KPU Kabupaten Manggarai Barat sebagai peserta Pilkada 2025. Bernadus Barat Daya dan Marselinus Jeramun, yang sebelumnya menyatakan kesiapan untuk mendaftar, pada akhirnya hanya mendatangi kantor KPU untuk menyampaikan secara resmi bahwa pencalonan mereka gugur karena tidak memenuhi syarat koalisi. Di hadapan KPU Kabupaten Manggarai Barat, Bernadus Barat Daya menjelaskan duduk perkaranya “Kami sudah mendapat SK (rekomendasi) dari lima partai politik. SK ini sah meskipun kemudian entah pertimbangan apa, DPP dari lima partai ini mengubah keputusannya sendiri dengan membuat SK baru atas nama orang lain.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegagalan mereka bukan disebabkan kurangnya dukungan di tingkat daerah, melainkan perubahan keputusan di tingkat pusat. Sementara itu, pasangan perseorangan Haji Azis dan Sirillus Ladur tidak berhasil memenuhi batas minimal dukungan yang dipersyaratkan untuk calon independen, sehingga tidak dapat melanjutkan proses pencalonan. Setelah melalui proses penetapan nomor urut, kontestasi resmi mempertemukan dua pasangan yang dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan pencalonan. Dengan demikian, panggung politik daerah mengerucut pada dua kekuatan yang sama-sama memiliki modal politik, jejaring, serta narasi pembangunan masing-masing. No. Pasangan Calon Pengusung Nomor Urut 1 Christo Mario Y. Pranda dan Richard Tata Sontani Partai Ummat, PAN, Perindo, PSI, Gelora, PKN, Demokrat, Buruh, Golkar (9 partai). Nomor Urut 2 Edistasius Endi dan dr. Yulianus Weng PDIP, NasDem, PKS, PKB, PBB, PPP, Gerindra (7 partai) menyusul Hanura setelah pendaftaran. Pasangan Christo Mario Y. Pranda dan Richard Tata Sontani tampil sebagai duet muda yang memadukan pengalaman politik, bisnis, dan teknokrasi. Mario Pranda, politisi Partai Demokrat yang juga dikenal sebagai pengusaha dan mantan pengacara di Jakarta, membawa energi generasi baru sekaligus garis sejarah sebagai putra bupati pertama Manggarai Barat. Richard Tata Sontani, birokrat IPDN dengan rekam jejak panjang dalam tata kelola pemerintahan daerah, menghadirkan kepakaran teknis yang melengkapi figur politik Mario. Koalisi besar sembilan partai pengusung memperkuat posisi mereka, sementara visi “Manggarai Barat yang MENYALA” dirumuskan untuk menandai arah baru pembangunan yang menyeimbangkan infrastruktur, supremasi hukum, SDM, ekonomi kerakyatan, daya saing daerah, dan pelayanan publik yang responsif. Di sisi lain, pasangan petahana Edistasius Endi dan dr. Yulianus Weng membawa narasi kontinuitas dan pencapaian pemerintahan 2020–2025. Edistasius Endi, politisi kawakan yang melangkah dari DPRD menuju eksekutif, dikenal sebagai figur stabil selama masa pandemi. Yulianus Weng, teknokrat kesehatan yang terjun ke politik, melengkapi kekuatan petahana dengan jejaring birokrasi dan pengalaman manajerial. Tujuh partai besar mengusung mereka dengan visi “Mabar yang Semakin MANTAP”, akronim dari Maju, Unggul, Tangguh, dan Populer. Narasi MANTAP diletakkan sebagai ajakan memaksimalkan momentum Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas tanpa mengabaikan pemerataan dan kearifan lokal. Lima misinya menekankan pembangunan pariwisata berkelanjutan, penguatan sektor primer, peningkatan SDM, perluasan infrastruktur dasar, serta modernisasi tata kelola berbasis e-government. Dengan hanya dua poros, tensi kampanye meningkat tajam dan membelah opini publik. Dari pusat-pusat keramaian pariwisata hingga desa-desa terpencil, diskursus politik mengalir ke warung kopi, pelabuhan, ruang adat, dan grup pesan singkat. Perdebatan utama berkisar pada pilihan mempertahankan orientasi pariwisata premium atau menggeser prioritas menuju pemerataan sektor tradisional dan kebutuhan dasar warga di luar kawasan wisata unggulan. Salah satu panggung penting kampanye adalah debat publik. KPU menjadwalkan dua kali debat, namun hanya satu yang terselenggara pada 16 Oktober 2024 dengan tema “Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Pembangunan Pariwisata Terintegrasi.” Debat kedua yang direncanakan pada 20 November dibatalkan karena kedua pasangan calon memilih fokus pada kampanye tatap muka di wilayah yang belum tersentuh. Meski demikian, satu-satunya debat itu sudah cukup untuk menampilkan ketegangan visi serta kemampuan para kandidat dalam mengelaborasi gagasan di hadapan publik. Selain kampanye tatap muka, medan pertarungan yang paling dinamis justru terjadi di media sosial. Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube berubah menjadi arena utama memperebutkan simpati pemilih, terutama generasi muda dan diaspora. Christo Mario Y. Pranda dan Richard Tata Sontani cenderung memusatkan strategi pada Facebook melalui sejumlah akun resmi dan relawan, sementara Edistasius Endi dan dr. Yulianus Weng tampil lebih agresif dengan memperluas jangkauan ke TikTok dan Instagram. Di luar kanal resmi, relawan digital dari kedua kubu menjadi motor penyebaran konten kreatif yang seringkali lebih viral dan mempengaruhi opini publik. Pada hari pemungutan suara 27 November 2024, jumlah pemilih dalam DPT mencapai 199.749 orang, terdiri atas 99.214 pemilih laki-laki dan 100.535 pemilih perempuan. Meski tensi politik tinggi, partisipasi hanya 72,33 persen. Rekapitulasi pada 3 Desember 2024 menunjukkan pasangan Edistasius Endi dan dr. Yulianus Weng unggul tipis dengan selisih 2.708 suara dari total suara sah 145.036. No Pasangan Calon Suara Sah 1 Christo Mario Y. Pranda dan Richard Tata Sontani (Mario–Richard) 71.164 2 Edistasius Endi dan Yulianus Weng (Edi–Weng) 73.872 Total Suara Sah 145.036 Selisih kemenangan yang kurang dari dua persen, ditambah berbagai persoalan yang mengemuka sejak awal tahapan, membuka ruang sengketa sebagaimana diatur dalam regulasi. Pasangan Christo Mario Y. Pranda dan Richard Tata Sontani kemudian menempuh dua langkah konstitusional sekaligus yakni mengajukan permohonan perselisihan hasil Pilkada ke Mahkamah Konstitusi serta menyampaikan aduan etik ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Di Mahkamah Konstitusi, mereka mendalilkan adanya pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif. Tuduhan tersebut mencakup dugaan praktik politik uang, ketidaknetralan aparatur sipil negara, politisasi birokrasi, serta persoalan administratif yang berkaitan dengan status pencalonan petahana. Dalam argumennya, mereka menyatakan bahwa tanpa rangkaian pelanggaran tersebut, komposisi hasil perolehan suara akan berubah dan justru mengarah pada kemenangan mereka. Proses persidangan di Mahkamah Konstitusi berubah menjadi arena pertarungan legitimasi antara dua poros politik yang sejak awal sudah bersaing sengit. Ketegangan yang sebelumnya hadir di ruang publik, kampanye, dan perdebatan digital kini bermigrasi ke ruang peradilan konstitusional, menjadikan Pilkada Manggarai Barat 2024 sebagai salah satu kontestasi paling dramatis sepanjang sejarah daerah tersebut. Sementara itu, aduan mereka ke DKPP akhirnya dicabut pada 6 Februari 2025, sehingga perkara etik tersebut dihentikan dan tidak dilanjutkan ke tahap pembuktian. Pasca sengketa panjang, KPU Manggarai Barat akhirnya menggelar rapat pleno terbuka untuk menetapkan pasangan calon terpilih pada 6 Februari 2025. Dua minggu kemudian, pada Kamis, 20 Februari 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melantik Edistasius Endi dan Yulianus Weng sebagai Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat dalam upacara resmi di Istana Merdeka, Jakarta. Prosesi nasional tersebut menjadi penegasan akhir atas legitimasi hasil Pilkada serentak dan menutup seluruh rangkaian kontestasi politik yang berlangsung sejak tahun sebelumnya.